2. Kerentanan (vulnerability)
- arazka wijaya
- Oct 11, 2019
- 2 min read
Updated: Oct 13, 2019
Ilustrasi gambar di atas menunjukkan, ada seorang nenek dan anak kecil pada situasi dan kondisi yang berbeda, mendapatkan tawaran bantuan dari seorang lelaki dewasa, yang menganggap bahwa nenek dan anak kecil ini memerlukan bantuan, meskipun mereka tidak memintanya. Situasi yang menganggap bahwa nenek dan anak kecil ini memerlukan bantuan inilah yang merupakan tolak ukur suatu kerentanan. Pria dewasa yang mencoba menawarkan bantuan kepada nenek dan anak kecil menganggap bahwa nenek dan anak kecil ini sangat rentan, sehingga memerlukan bantuan. Dan mengapa yang menawarkan bantuan adalah seorang pria dewasa, bukan sesama nenek atau sesama anak kecil, karena pria dewasa tersebut menganggap dirinya tidak terlalu rentan dibanding si nenek atau anak kecil yang akan ditolongnya. Dan demikianlah cuplikan kondisi kerentanan yang terjadi di masyarakat. Kemudian apa hubungannya dengan penanggulangan bencana.
Kerentanan memiliki dua makna, yaitu sebuah kondisi atau keadaan tertentu yang ditentukan oleh faktor fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan atau proses-proses tertentu yang dapat mempengaruhi penurunan daya kemampuan seseorang atau masyarakat dalam menghadapi bencana atau acaman bencana. Dan, pengertian kedua, yang merujuk pada pengertian risiko atau kemungkinan dampak buruk yang diakibatkan oleh samacam keadaan bahaya dalam segala kondisi, baik karena diakibatkan oleh fenomena alam, kebijakan politik, atau tangan-tangan kotor manusia. Kalau orang dimasukkan sebagai bagian dari kelompok rentan, maka dia memiliki kondisi tertentu yang menjadikannya tidak bisa secara baik menghadapi bahaya, bencana, dan gejolak sosial karena adanya keterbatasan tertentu. Setiap negara dan masyarakat harus memiliki kebijakan tertentu untuk mengurangi kerentanan bencana. (Sumber : bencanapedia.id)
Menurut Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) No. 2 tahun 2012 ada empat jenis kerentanan yang perlu diperhitungkan dalam penanggulangan bencana, yaitu kerentanan sosial, ekonomi, fisik, dan ekologi (lingkungan). Adapun penjelasan dari keempat kerentanan tersebut adalah sebagai berikut :
Kerentanan sosial (social vulnerability) mengacu pada karakteristik seseorang atau kelompok dalam hal kapasitas mereka untuk mengantisipasi, mengatasi, melawan dan memulihkan dari dampak bahaya alam. (Sumber : understandrisk.org)
Kerentanan ekonomi (economic vulnerability) mengacu pada risiko yang disebabkan oleh guncangan eksternal / eksogen terhadap sistem produksi, distribusi, dan konsumsi. (Sumber : igi-global.com)
Kerentanan fisik (physical vulnerability) suatu daerah juga tergantung pada kedekatan geografisnya dengan sumber dan asal bencana, mis. jika suatu daerah terletak dekat garis pantai, garis patahan, bukit tidak stabil dll. itu membuat daerah itu lebih rentan terhadap bencana dibandingkan dengan daerah yang jauh dari asal bencana. Kerentanan fisik termasuk kesulitan dalam mengakses sumber daya air, sarana komunikasi, rumah sakit, kantor polisi, pemadam kebakaran, jalan, jembatan dan jalan keluar dari suatu bangunan atau area, jika terjadi bencana. Selain itu, kurangnya perencanaan dan implementasi yang tepat dalam konstruksi bangunan perumahan dan komersial mengakibatkan bangunan yang lebih lemah dan rentan terhadap gempa bumi, banjir, tanah longsor dan bahaya lainnya. (Sumber : mnestudies.com)
Kerentanan ekologi (ecological vulnerability) mengacu pada sumber daya alam dan lingkungan termasuk ekosistem di dalamnya, yaitu hewan dan tumbuhan, dalam beradaptasi dengan bencana yang akan dihadapi.
Keempat jenis kerentanan tersebut, masing masing memiliki indikator sebagai penyusunnya. Dan tolak ukur tinggi rendahnya suatu kerentanan ditentukan dari indeks dari masing masing kerentanan. Dimana indeks tersebut dihitung berdasarkan akumulasi dari nilai masing masing indikator kerentanan. Mengenai metode perhitungan indeks akan dibahas lebih detil pada bab selanjutnya. Sedangkan mengenai indikator kerentanan tidak akan dibahas keseluruhan dalam digital book ini, namun hanya fokus pada indikator kerentanan sosial, karena problematikanya yang lebih dinamis, mengikuti perkembangan kehidupan manusia dari masa ke masa.





Comments