top of page

3.1. Indikator kerentanan sosial : tingkat individu

  • Writer: arazka wijaya
    arazka wijaya
  • Oct 13, 2019
  • 3 min read

Updated: Oct 16, 2019


Gambar 3.1.1. Ilustrasi petugas sensus melaksanakan tugasnya

Pernahkah anda didatangi oleh petugas sensus seperti pada gambar di atas? Apa saja yang mereka tanyakan? Pada dasarnya, hal hal yang ditanyakan oleh petugas sensus adalah untuk keperluan kependudukan. Dalam hal ini instansi yang berwenang adalah Dispendukcapil (Dinas Kependudukan dan Catatan sipil) di bawah naungan kementerian dalam negeri (Kemendagri) jika di tingkat pusat. Namun data tersebut dapat digunakan oleh berbagai instansi lain yang memerlukan, misalnya ; untuk keperluan politik bernegara, data kependudukan tersebut digunakan sebagai data peserta pemilu, termasuk oleh BPS (Badan Pusat Statistik) yang bertugas mengakumulasi data kependudukan kita, sehingga menjadi informasi statistik yang dapat dengan mudah dipahami oleh masyarakat umum.

Untuk keperluan penanggulangan bencana data kependudukan tersebut juga sangat penting. Karena data kependudukan tersebut dapat menjadi tolak ukur kerentanan sosial, berdasarkan kelompok indikator kerentanan sosial. Berikut in akan diuraikan secara lebih detil indikator kerentanan sosial yang tergabung ke dalam kelompok individu, berdasarkan skala tingkatan sosialnya ;

  • Usia (Age), variasi usia yang sangat beragam mulai dari anak anak sampai orang tua, membuat indikator ini paling sering digunakan oleh peneliti untuk menentukan tingkat kerentanan sosial. Adapun variasi usia tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sub kelas, yaitu : Balita/Bayi (0 - 4 tahun), Anak anak (5 - 14 tahun), remaja (15 - 24 tahun), dewasa (25 - 64 tahun), orang tua (lebih dari 65 tahun). Dalam hal ini usia yang dikategorikan ke dalam kelompok yang tidak rentan adalah usia remaja dan usia dewasa, sedangkan usia balita, anak anak dan orang tua dikategorikan ke dalam kelompok yang rentan.

  • Pendidikan (education), jenjang pendidikan yang beragam, juga membuat indikator ini sering digunakan oleh para peneliti untuk menentukan tingkat kerentanan sosial. Adapun jenjang pendidikan yang dimaksud adalah :

  1. Pendidikan dasar, dalam hal ini pendidikan yang dimaksud adalah kemampuan dasar seseorang dalam membaca, menulis, dan berhitung. Namun dalam manajemen bencana istilah pendidikan dasar sangat jarang digunakan, dan lebih familiar dengan sebutan literate people. Sedangkan orang yang belum punya kesempatan untuk menempuh pendidikan dasar dikenal dengan istilah illiterate people. Semakin banyak orang yang belum menempuh pendidikan dasar dan belum bisa membaca, maka akan semakin rentan.

  2. Pendidikan menengah (secondary school), dalam hal ini orang yang telah menempuh pendidikan menengah, selain sudah memiliki kemampuan dasar dalam hal membaca dan menulis, juga dianggap sudah memiliki wawasan yang cukup, sehingga cukup mengerti apa yang harus dilakukan ketika bencana datang. Sehingga orang yang belum menempuh pendidikan menengah dianggap lebih rentan terhadap bencana.

  3. Pendidikan tinggi (tertiary school), dalam hal ini orang yang telah menempuh pendidikan tinggi, selain sudah memiliki wawasan yang cukup luas, juga dianggap memiliki pemikiran yang matang, sehingga tidak mudah panik saat terjadi bencana.

  • Pekerjaan (employment), memiliki pekerjaan dan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan merupakan dambaan bagi setiap orang. Dalam hal ini yang menjadi tolak ukur seseorang rentan atau tidak, bukan berdasarkan tingkat pekerjaannya, jabatan dalam pekerjaannya. Namun lebih kepada, berapa banyak orang yang telah bekerja pada usia kerja (employment rate). Dan berapa banyak wanita ikut berpartisipasi dalam dunia kerja (female labor forced). Karena semakin sedikit, orang yang bekerja, dan wanita yang berpartisipasi dalam dunia kerja, maka akan semakin rentan.

  • Kesejahteraan sosial ekonomi (socioeconomic welfare), memiliki kemampuan ekonomi yang baik, sehingga mampu mencukupi kebutuhan hidup, juga merupakan dambaansetiap orang. Maka semakin tinggi pendapatan seseorang (income percapita), akan semakin tidak mudah rentan orang tersebut. Apalagi jika ditambah dengan berbagai macam asuransi yang turut menunjang kehidupan sosialnya, seperti asuransi kesehatan (Health insurance).

  • Orang dengan keterbatasan (dependent people), memiliki keterbatasan, sudah pasti tidak diinginkan oleh setiap orang. Oleh karena itu, orang orang dengan keterbatasan ini sudah selayaknya mendapatkan prioritas, saat bencana terjadi. karena mereka termasuk ke dalam golongan yang rentan. Keterbatasan tersebut bisa disebabkan karena keterbatasan fisik mereka, atau yang biasa disebut dengan disabled people. Atau karena keterbatasan pengetahuan mereka tentang daerah setempat, yang biasa disebut dengan foreign people. Dan karena keterbatasan mereka akan sumber daya khususnya finansial, atau dalam bahasa inggris disebut poor people.

Comments


Post: Blog2_Post

Subscribe Form

Thanks for submitting!

  • Facebook
  • Twitter

©2019 by Geodarma digital book. Proudly created with Wix.com

bottom of page