3. Indikator kerentanan sosial
- arazka wijaya
- Oct 11, 2019
- 3 min read
Updated: Oct 29, 2019
Peristiwa unjuk rasa untuk menuntut suatu hak kepada penguasa, merupakan tontonan yang tak asing lagi bagi negara kita, seperti yang kita lihat pada ilustrasi gambar di atas. Apalagi jika tuntutan itu terkait erat dengan kebutuhan dasar kita sehari hari, seperti harga sembako, bbm, listrik dan kebutuhan dasar lainnya. Namun pernahkah kita sadari, atau bahkan pemerintah sadari bahwa hal hal yang terkait dengan kebutuhan dasar tersebut dapat menjadi salah satu tolak ukur kita terhadap kerentanan dalam menghadapi bencana.
Penelitian para ahli dari berbagai negara di dunia tentang kerentanan sosial, menyebutkan bahwa indikator kerentanan sosial sangat banyak dan bervariasi. Hal ini bisa sangat tergantung dari indikator tertentu terhadap bencana yang dihadapi, misalnya : dalam menghadapi bencana banjir, indikator kerentanannya tidak akan sama dengan indikator dalam menghadapi bencana gunung berapi. Selain itu kondisi sosial kemasyarakatan yang berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain. Namun hal ini sangat berbeda dengan Negara kita Indonesia, yang memiliki wilayah yang sangat luas, dan memiliki karakteristik sosial kemasyarakatan yang sangat bervariasi, juga berbagai macam bencana yang berpotensi menimpa Indonesia, dan hanya menggunakan lima indikator dalam menentukan kerentanan sosial di seluruh wilayah di Indonesia. Hal ini sesuai dengan Perka BNPB No. 2 tahun 2012 tentang Pedoman umum pengkajian resiko bencana, yang menyebutkan bahwa indikator kerentanan sosial terdiri dari ; kepadatan penduduk dan kelompok rentan ( jenis kelamin, kemiskinan, orang cacat, dan kelompok umur). Namun pada kesempatan kali ini kita tidak akan membahas panjang lebar mengenai indikator yang telah ditetapkan oleh Perka BNPB ini. Pada paper Wijaya (2018), permasalahan ini juga dibahas mengenai indikator indikator yang digunakan oleh BNPB dengan indikator yang digunakan oleh peneliti lain, untuk lebih jelasnya silakan baca papernya. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas lebih lanjut mengenai indikator indikator yang yang pernah digunakan dalam penelitian di berbagai negara.
Menurut Birkmann (2006), dalam bukunya yang berjudul Measuring vulnerability to natural hazard, indikator kerentanan sosial yang jumlahnya begitu banyak dapat dikelompokkan berdasarkan skala tingkatan sosial (social level), dimulai dari tingkatan terendah yaitu, individu, kemudian keluarga, hingga masyarakat.
Tingkat individu (individual level), dalam hal ini diri kita diukur secara perorangan, tidak ada sngkut pautnya dengan keluarga, maupun lingkungan masyarakat tempat kita tinggal. Contohnya : usia, tinkat pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, dan lainnya.
Tingkat keluarga (household level), dalam hal ini karakteristik kehidupan keluarga kita dihitung sebagai tolak ukur kerentanan sosial. Contohnya : apakah orang tua kita dalam keluarga termasuk single parent atau tidak, siapakah yang bertanggung jawab utama dalam hal perekonomian keluarga, apakah bapak atau ibu, dan seterusnya terkait dengan urusan keluarga atau rumah tangga.
TIngkat masyarakat (community level), dalam hal ini segala hal yang menyangkut kehidupan sosial masyarakat dalam suatu kelompok masyarakat, misal ; masyarakat dalam suatu wilayah administrasi, seperti ; desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, sampai tingkat provinsi, dihitung sebagai bagian dari tolak ukur kerentanan sosial. Contohnya : fasilitas kesehatan yang memadai, pelayanan pekerja di tiap perusahaan maupun intansi tempat bekerja, dan seterusnya.
Selain berdasarkan skala tingkatan sosial (social level), indikator kerentanan sosial juga dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok berdasakan permasalahannya, yaitu sosial ekonomi (socioeconomic) dan lingkungan (built-environmental). Hal ini disampaikan oleh Holand, I. S., et al. (2011), dalam penelitiannya yang berjudul Social vulnerability assessment for Norway : a quantitative approach. Namun dalam digital book kali ini tidak akan dibahas lebih lanjut mengenai pengelompokan berdasarkan permasalahan ini. Untuk lebih jelasnya silakan baca jurnal atau artikel yang terkait. Pada bab selanjutnya akan dibahas lebih detil mengenai indikator indikator yang masuk dalam kelompok individu, keluarga, dan masyarakat. Namun hanya disajikan secara narasi, sedangkan untuk lebih detilnya mengenai bagian bagian dari indikator kerentanan sosial dapat pelajari lebih dalam pada Tabel Lampiran 1. Dan untuk deskripsi lebih jelas dari masing masing indikator dapat dipelajari lebih dalam pada penjelasan Lampiran 2.





Comments