1. Pendahuluan
- arazka wijaya
- Oct 8, 2019
- 3 min read
Updated: Oct 17, 2019
Berbagai upaya untuk mengurangi dampak terhadap bencana telah dilakukan. Namun korban masih terus berjatuhan. Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei dalam CNN Indonesia, mengatakan bencana gempa bumi yang diikuti tsunami, dan likuifaksi di Palu dan daerah sekitarnya di Sulawesi Tengah menjadi penyebab utama peningkatan jumlah korban bencana kurun waktu 2017-2018. Jumlah bencana yang terjadi pada 2017 lebih banyak yakni 2.862 bencana, jika dibandingkan dengan jumlah bencana sepanjang tahun 2018 ini yakni 2.426 bencana. Namun dari segi korban meninggal dunia dan hilang, jumlahnya melonjak drastis dari 378 korban menjadi 4.231 korban.
Menurut hemat kami, salah satu penyebab dari masih banyaknya jumlah korban adalah upaya penanggulangan masih bertumpu pada pemetaan daerah rawan bencana atau daerah potensi bencana secara fisik atau dalam bahasa ilmiahnya disebut sebagai Hazard. Padahal sejatinya, bencana tidak hanya disebabkan oleh hazard saja, namun juga dapat dipengaruhi oleh faktor kerentanan (vulnerability) dan faktor eksposur. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram di bawah ini.
Bahaya (hazard) adalah faktor intrinsik yang melekat pada sesuatu (bisa pada barang ataupun suatu kegiatan maupun kondisi), misalnya pestisida yang ada pada sayuran ataupun panas yang keluar dari mesin pesawat. Bahaya ini akan tetap menjadi bahaya tanpa menimbulkan dampak/ konsekuensi ataupun berkembang menjadi accident bila tidak ada kontak (exposure) dengan manusia. Sebagai contoh, panas yang keluar dari mesin pesawat tidak akan menimbulkan kecelakaan jika kita tidak menyentuhnya. (Sumber : idtesis.com) Dalam hal ini alam semesta juga memiliki faktor intrisik yang melekat secara alamiah yang dapat menyebabkan terjadinya bencana. Dan faktor intrisik inilah yang sering kita kaji, kemudian kita petakan sehingga menjadi peta rawan bencana, tanpa memperhatikan faktor yang lain seperti kerentanan dan eksposur.
Kerentanan (vulnerability) adalah rangkaian kondisi yang menentukan apakah bahaya (baik bahaya alam maupun bahaya buatan) yang terjadi akan dapat menimbulkan bencana (disaster) atau tidak. Rangkaian kondisi, umumnya dapat berupa kondisi fisik, sosial dan sikap yang mempengaruhi kemampuan masyarakat dalam melakukan pencegahan, mitigasi, persiapan dan tindak-tanggap terhadap dampak bahaya. (Sumber : p2mb.geografi.upi.edu). Maka semakin tinggi kerentanan, akan semakin tinggi pula resiko bencana itu terjadi.
Paparan (exposure) didefinisikan sebagai "situasi orang, infrastruktur, perumahan, kapasitas produksi dan aset manusia berwujud lainnya yang terletak di daerah rawan bahaya". Seperti yang dinyatakan dalam glosarium UNIDRR, “ukuran paparan dapat mencakup jumlah orang atau jenis aset di suatu daerah. Ini dapat dikombinasikan dengan kerentanan dan kapasitas spesifik dari elemen-elemen yang terpapar terhadap bahaya tertentu untuk memperkirakan risiko kuantitatif yang terkait dengan bahaya tersebut di bidang yang diminati ”. (Sumber : un-spider.org). Maka semakin tinggi paparan yang dimiliki oleh suatu daerah, maka akan semakin berkurang resiko bencana itu terjadi.
Resiko bencana (disaster risk) merupakan akumulasi dari ketiga unsur tersebut. Semakin tinggi potensi hazard dan kerentanan di suatu wilayah, dan semakin kecil paparan yang dimiliki, maka akan semakin besar resiko bencana itu terjadi. Dan begitu pula sebaliknya.
Dalam digital book ini, tidak akan dibahas panjang lebar mengenai resiko bencana (disaster risk), bahaya (hazard), dan paparan (exposure). Namun akan dibahas secara panjang lebar mengenai kerentanan (vulnerability), yaitu mengenai indikator apa saja yang mempengaruhi kerentanan di suatu wilayah, bagaimana menghitung nilai kerentanan suatu wilayah dan seterusnya. Seperti yang disampaikan di awal bahwa upaya penanggulangan resiko bencana sejatinya tidak hanya bertumpu pada pemetaan potensi hazard, namun juga perlu diimbangi dengan upaya pengurangan tingkat kerentanan, dan peningkatan paparan. Analisis dan pembahasan lainnya terkait bencana dan kerentanan untuk melengkapi bab pendahuluan ini dapat anda baca lebih lanjut pada laman blog yang lain yaitu : http://bumise.blogspot.com/2018/04/hidup-berdampingan-dengan-bencana-siapa.html
Pada akhirnya semoga digital book ini dapat bermanfaat dalam hal, menambah pengetahuan kita mengenai upaya penanggulangan bencana khususnya dalam hal pengurangan tingkat kerentanan.






Comments